IniSulawesi, Buol, 16/09/2025)– Menyusul rapat evaluasi pelaksanaan Car Free Day (CFD) Buol Sport Tourism 2025 yang dipimpin Wakil Bupati Buol, Dr. H. Mohamad Nasir Dj. Daimaroto, pada Selasa (16/9), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Buol memberikan tanggapan sekaligus masukan sebagai bentuk kontribusi terhadap penyempurnaan kegiatan tersebut di masa mendatang.

Ketua Umum HMI Cabang Buol, Arman A. Hala, menyampaikan apresiasi atas langkah pemerintah daerah yang berupaya melakukan evaluasi. Menurutnya, semangat Pemda dalam mendorong budaya hidup sehat dan mengembangkan sport tourism patut diapresiasi, meski ada beberapa catatan penting yang muncul dari masyarakat.

“Kami melihat semangat Pemda dalam mendorong budaya hidup sehat dan pengembangan sport tourism patut diapresiasi. Namun, ada aspirasi masyarakat yang kami rasa penting untuk menjadi bahan pertimbangan agar pelaksanaan CFD semakin tertib, bermanfaat, dan selaras dengan kondisi sosial budaya di Buol,” ujar Arman.

Dalam hal ini HMI menyoroti lokasi pelaksanaan CFD yang saat ini terpusat di sekitar Tugu Lampu Merah Kelurahan Leok II, berdekatan dengan dua masjid, termasuk Masjid Agung Buol sebagai ikon keagamaan daerah.

Menurut Arman, kondisi tersebut kerap menimbulkan ketidaknyamanan bagi sebagian jamaah yang baru selesai melaksanakan salat Subuh atau mengikuti kajian keagamaan.

Banyak jamaah yang baru keluar dari masjid langsung dihadapkan pada keramaian CFD, termasuk peserta yang mengenakan pakaian olahraga ketat. Kami khawatir hal ini bisa memicu ketidakharmonisan jika tidak ditata dengan bijak,” jelasnya.

Sebagai solusi, HMI mengusulkan agar Pemda mempertimbangkan pemindahan lokasi CFD ke area yang lebih tepat sehingga kegiatan olahraga tetap berjalan lancar tanpa mengganggu kekhusyukan ibadah masyarakat.

Selain isu lokasi, HMI juga menyoroti pola pelaksanaan CFD yang selama ini sepenuhnya menggunakan branding resmi pemerintah melalui Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disporapar).

“Kami mengusulkan agar CFD ke depan lebih banyak melibatkan komunitas olahraga lokal sebagai pelaksana utama, sementara Pemda cukup berperan sebagai fasilitator dan pendukung. Dengan begitu, CFD bisa tumbuh dari masyarakat sekaligus menjadi wadah pemberdayaan pemuda dan komunitas,” kata Arman.

Menurutnya, pola berbasis komunitas akan menumbuhkan rasa memiliki dari masyarakat sekaligus mendorong partisipasi aktif dalam menjaga keberlanjutan kegiatan.

HMI menegaskan dukungan agar CFD tetap dipertahankan sebagai ruang publik yang sehat, inklusif, dan harmonis.

CFD adalah kegiatan positif yang patut terus dilanjutkan. Dengan evaluasi yang tepat dan pelibatan semua pihak, CFD bisa menjadi ikon sport tourism yang tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan dan ekonomi, tetapi juga memperkuat keharmonisan sosial di Kabupaten Buol,” tutup Arman.