IniSulawesi.Com, Morowali Utara – Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Badan Koordinasi (BADKO) Sulawesi Tengah, Renaldi Kuamas, menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya seorang pasien bernama Saharudin Landoala usai menjalani operasi amandel di Rumah Sakit Daerah Morowali Utara.

Dalam keterangan yang disampaikan kepada media, Renaldi menyebut peristiwa tersebut perlu mendapat perhatian serius dan penelusuran menyeluruh. Ia mengungkapkan, berdasarkan informasi yang diterima dari pihak keluarga, korban diduga mengalami pendarahan dari mulut secara terus-menerus setelah tindakan operasi.

“Menurut informasi keluarga, kondisi pendarahan berlangsung cukup lama. Mereka berharap ada penanganan cepat dan maksimal dalam situasi darurat seperti itu,” ujar Renaldi.

Informasi dari keluarga korban juga disampaikan oleh Jumran Landoala, yang menyebut bahwa pihak keluarga merasa penanganan terhadap kondisi kritis pasien belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Namun demikian, hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak manajemen rumah sakit terkait kronologi medis secara lengkap.

Renaldi menegaskan bahwa dalam dunia medis, setiap tindakan dan penanganan memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang harus dijalankan secara profesional. Ia menilai, apabila benar terjadi keterlambatan respons dalam situasi darurat, hal tersebut perlu dievaluasi secara objektif dan transparan.

Atas kejadian tersebut, HMI BADKO Sulawesi Tengah menyampaikan sejumlah tuntutan, antara lain:

Dilakukan audit medis dan investigasi independen secara terbuka terhadap proses operasi dan penanganan pasca operasi pasien.

Evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan, khususnya pada penanganan gawat darurat.

Pertanggungjawaban manajemen rumah sakit apabila ditemukan adanya pelanggaran prosedur.

Aparat penegak hukum melakukan penyelidikan lebih lanjut jika dalam proses investigasi ditemukan unsur kelalaian.

Meski demikian, Renaldi menegaskan akan terus dan mengawal kasus ini Hingga Tuntas sehingga Transparansi dan akuntabilitas benar benar dijalankan.

“Kami mendorong transparansi dan akuntabilitas, namun tetap menghormati proses hukum dan mekanisme audit medis yang berlaku,” tambahnya.

Hingga saat ini, pihak Rumah Sakit Daerah Morowali Utara belum memberikan pernyataan resmi terkait tudingan tersebut. Media ini masih berupaya mengonfirmasi kepada manajemen rumah sakit untuk memperoleh penjelasan berimbang demi kepentingan publik.

Kasus ini diharapkan menjadi perhatian bersama agar standar keselamatan pasien sebagai prinsip utama dalam pelayanan kesehatan dapat terus dijaga dan ditingkatkan.