IniSulawesi.Com, TOLITOLI — Limbah peternakan yang selama ini hanya menumpuk di sekitar kandang mulai diubah menjadi sumber energi terbarukan di Desa Diule, Kecamatan Tolitoli Utara, Kabupaten Tolitoli.

Upaya tersebut dilakukan Universitas Madako Tolitoli (UMADA) melalui program pengabdian kepada masyarakat dengan menerapkan teknologi biogas rumah tangga berbasis limbah peternakan. Program ini diarahkan untuk mendorong pemanfaatan potensi lokal sekaligus memperkuat kemandirian energi masyarakat desa.
Program bertajuk “Penerapan Teknologi Biogas Rumah Tangga Berbasis Limbah Peternakan untuk Mendukung Kemandirian Energi Desa Diule Kabupaten Tolitoli” itu dipimpin Dr. Supamri, S.Pt., MP, bersama anggota tim Dr. Mohammad Sawir, S.Sos., MAP dan Dr. Ibrahim, S.Pt., MP.
Kegiatan dilaksanakan bersama Kelompok Ternak Jaya Bersama, Desa Diule, melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Dalam laporan pengesahan, biaya kegiatan tahun berjalan tercatat sebesar Rp43,75 juta.
Desa Diule memiliki potensi peternakan yang cukup besar. Sekitar 80 kepala keluarga tercatat memelihara ternak, terutama sapi dan kambing. Kondisi tersebut menghasilkan limbah ternak setiap hari, namun sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal.
Di sisi lain, kebutuhan energi rumah tangga, khususnya untuk memasak, masih mengandalkan LPG dan kayu bakar. Kondisi itu menjadi peluang bagi pengembangan energi alternatif berbasis sumber daya lokal.
Melalui teknologi biogas, kotoran sapi dan kambing diolah melalui proses fermentasi anaerob di dalam digester. Gas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar memasak, sedangkan residu atau slurry diarahkan untuk dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
Konsep tersebut tidak hanya menyelesaikan persoalan limbah, tetapi juga menciptakan nilai tambah melalui pendekatan waste to energy and fertilizer—mengubah limbah menjadi energi sekaligus pupuk.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat tidak ditempatkan sekadar sebagai penerima teknologi. Tim UMADA menerapkan pendekatan partisipatif melalui sosialisasi, pelatihan, demonstrasi, praktik langsung, pendampingan hingga monitoring.
Kelompok peternak dilibatkan mulai dari identifikasi kondisi, persiapan lokasi, penyediaan bahan baku, pemasangan instalasi hingga pengenalan pengoperasian dan pemeliharaan biogas. Mahasiswa juga turut terlibat dalam penyuluhan, pelatihan, penerapan teknologi serta pendampingan masyarakat.
Salah satu capaian utama program ini adalah pembangunan satu unit digester biogas rumah tangga di lokasi mitra. Instalasi tersebut dilengkapi sistem pemasukan bahan baku, saluran keluaran slurry, saluran gas serta kompor biogas.
Unit tersebut sekaligus menjadi model percontohan bagi masyarakat untuk melihat secara langsung proses pengolahan kotoran ternak menjadi sumber energi.
Laporan kemajuan mencatat pembangunan fisik unit biogas beserta komponen utamanya telah selesai. Tahapan selanjutnya meliputi pengisian bahan baku, proses fermentasi, pengujian produksi biogas serta uji fungsi kompor.
Karena itu, penerapan teknologi saat ini masih berada pada tahap awal dan terus didampingi untuk memastikan sistem dapat berfungsi secara optimal.
Tak berhenti pada produksi energi, program tersebut juga memperkenalkan pemanfaatan slurry sebagai pupuk organik untuk tanaman pangan, hortikultura maupun hijauan pakan ternak.
Dengan pola tersebut, limbah peternakan dapat menghasilkan dua manfaat sekaligus, yakni energi melalui biogas dan bahan organik melalui residu fermentasi.
Tim UMADA juga mendorong penguatan kelompok pengelola biogas di Desa Diule. Kelompok tersebut diharapkan mampu menangani pengoperasian, pemeliharaan, pencatatan serta pengembangan teknologi secara mandiri setelah program pengabdian berakhir.
Penerapan biogas ini diharapkan menjadi langkah awal perubahan pola pikir masyarakat terhadap limbah peternakan. Kotoran ternak yang sebelumnya dianggap sebagai limbah diarahkan menjadi sumber daya yang menghasilkan energi sekaligus pupuk.
Bagi Universitas Madako Tolitoli, program tersebut menjadi bentuk nyata penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Ke depan, model yang dikembangkan di Desa Diule diharapkan dapat direplikasi pada rumah tangga peternak lainnya, baik di Desa Diule maupun wilayah Kabupaten Tolitoli yang memiliki potensi serupa.
Tahap berikutnya akan difokuskan pada pendampingan pengoperasian, uji fungsi, monitoring, evaluasi serta penguatan kapasitas mitra agar teknologi biogas dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Dari kandang ternak di Desa Diule, sebuah gagasan sederhana mulai diwujudkan: limbah tidak lagi sekadar dibuang, tetapi diolah menjadi energi dan pupuk yang dapat memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

