IniSulawesi.Com, POSO, SULAWESI TENGAH — Sejarah Poso tidak hanya mencatat perjalanan kerajaan dan pergantian kekuasaan, tetapi juga menyimpan kisah kepemimpinan yang meninggalkan warisan persatuan dan toleransi. Salah satu tokoh yang dikenang dalam perjalanan sejarah tersebut adalah Talasa Tua, atau Nduwa, yang dikenal pula dengan sebutan Ngkai Talasa.
Talasa Tua merupakan Mokole Bangke (Raja Besar) Kerajaan Poso ke-8. Ia diperkirakan lahir pada dekade 1880-an di wilayah Poso dan memimpin kerajaan pada periode 1917 hingga 1947. Sebelum menduduki takhta kerajaan, ia pernah menjabat sebagai Kepala Distrik Lage. Dalam perjalanan kariernya, ia kemudian ditunjuk oleh pemerintah kolonial Belanda untuk menggantikan Raja Tadale.
Di bawah kepemimpinannya, salah satu nilai yang menonjol adalah keterbukaan terhadap masyarakat dari berbagai latar belakang. Pada 1947, Talasa Tua disebut mengeluarkan pengumuman yang memberikan kesempatan kepada masyarakat dari berbagai suku dan agama untuk menetap di wilayah Poso, dengan prinsip saling menghormati dan menjaga kehidupan bersama.
Sikap tersebut menjadi bagian penting dari kisah sejarah masyarakat Poso yang dikenal memiliki keberagaman suku, budaya, dan keyakinan. Pesan persatuan yang diwariskan Talasa Tua memperlihatkan bahwa kehidupan masyarakat yang majemuk membutuhkan sikap saling menghargai, bukan mempertentangkan perbedaan.
Dalam kehidupan sosial, Talasa Tua juga dikenal memiliki hubungan baik dengan sejumlah misionaris asal Belanda, di antaranya Kruyt dan Adriani. Meski menjalin hubungan dengan kalangan misionaris, ia tetap mempertahankan kepercayaan leluhur masyarakat Pamona, yakni kepercayaan Lamoa, hingga akhir hayatnya.
Memasuki masa peralihan menuju kemerdekaan Indonesia, Talasa Tua turut berupaya menjaga ketertiban dan kedamaian di wilayah kekuasaannya. Jejak sejarah kepemimpinannya juga melekat pada rumah kediamannya yang berada di Jalan Jenderal Sudirman, Poso Kota.
Rumah tersebut memiliki nilai historis tersendiri karena pernah menjadi tempat bermalam Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, ketika melakukan kunjungan ke Poso pada 1952.
Talasa Tua wafat pada 1947. Kepemimpinan kemudian diteruskan oleh putranya, Wongko Lemba Talasa, yang dikenal memiliki peran dalam perjuangan kemerdekaan serta tercatat sebagai salah satu tokoh dalam sejarah pembentukan Provinsi Sulawesi Tengah.
Warisan Talasa Tua bukan semata-mata tentang kedudukan sebagai seorang raja. Kisah kepemimpinannya menjadi pengingat bahwa persatuan dapat dibangun melalui keterbukaan, penghormatan terhadap keyakinan, serta kesediaan menerima masyarakat yang berbeda latar belakang.
Di tengah kehidupan masyarakat modern yang semakin beragam, nilai-nilai tersebut tetap relevan untuk dirawat. Sejarah Talasa Tua mengingatkan bahwa kekuatan sebuah daerah tidak hanya terletak pada kekuasaan dan pembangunan, tetapi juga pada kemampuan masyarakatnya menjaga persaudaraan di tengah perbedaan.
Catatan sumber: Artikel ini disusun berdasarkan informasi sejarah yang dipublikasikan melalui akun Facebook Ceria Story, dengan penyuntingan dan penulisan ulang oleh redaksi IniSulawesi.Com.

