IniSulawesi.Com, SINJAI, SULSEL — Jauh sebelum nama-nama pejuang dicatat dalam buku sejarah, di tanah Sulawesi Selatan pernah berdiri sosok yang memilih mempertaruhkan kehormatan demi mempertahankan wilayahnya dari ancaman kolonial.
Namanya La Makkarodda, yang juga dikenal sebagai Baso Akbar atau Baso Kalaka. Ia bukan hanya bangsawan, tetapi juga seorang pemimpin pemerintahan sekaligus panglima perang yang memiliki pengaruh kuat di wilayah Tellu Limpoe, Sinjai.
Di tengah pergolakan politik dan ekspansi kolonial Belanda pada abad ke-19, La Makkarodda dipercaya mengemban jabatan sebagai Sullewatang Bulo-Bulo. Kedudukan tersebut menempatkannya sebagai wakil penguasa yang memiliki tanggung jawab dalam pemerintahan sekaligus menjadi simbol kewibawaan kerajaan di wilayahnya.
Namun, peran La Makkarodda tidak berhenti di pemerintahan.
Ia juga dikenal sebagai Panglima Perang Tellu Limpoe. Ketika wilayah pesisir Sinjai mulai menjadi bagian penting dalam kepentingan kolonial Belanda, La Makkarodda berada di garis depan membangun pertahanan rakyat.
Gelar kebesaran adat yang disandangnya pun tidak sederhana. Ia dikenal dengan gelar Baso Kalaka Puang Lampe Uttu Mallangkarae di Kalaka, Mallangkanae di Balubu, Calabai Tungkena Kalaka, Koro Pessena Balubu, Bari Cilampana Mangngottong.
Di balik panjangnya gelar tersebut tersimpan simbol tentang kedudukan, kewibawaan dan tanggung jawab seorang pemimpin dalam tatanan masyarakat pada masanya.
Yang menarik, perlawanan La Makkarodda tidak dilakukan seorang diri.
Ia membangun kekuatan bersama sejumlah pejuang lokal, termasuk tokoh perempuan yang juga dikenal dalam sejarah perjuangan masyarakat Sinjai, Besse Langello.
Dengan memahami karakter wilayah pesisir, muara sungai dan lingkungan sekitarnya, para pejuang memanfaatkan medan sebagai bagian dari strategi menghadapi pasukan kolonial yang memiliki persenjataan lebih modern.
Perlawanan tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan rakyat tidak hanya bertumpu pada persenjataan, tetapi juga pada penguasaan medan, keberanian dan kemampuan membangun persatuan.
Bagi La Makkarodda, mempertahankan tanah kelahiran tidak sekadar persoalan politik. Perjuangan itu berkaitan erat dengan nilai siri’ na pesse’, prinsip kehidupan masyarakat Bugis-Makassar yang menempatkan kehormatan, harga diri, solidaritas dan kepedulian terhadap sesama sebagai nilai penting dalam kehidupan.
Karena itu, kisah La Makkarodda tidak hanya berbicara tentang peperangan.
Ia juga menggambarkan bagaimana seorang pemimpin lokal menghadapi perubahan besar ketika kekuatan kolonial berusaha memperluas pengaruhnya di Sulawesi Selatan.
La Makkarodda akhirnya wafat karena sakit pada 1875. Ia kemudian dimakamkan di Kompleks Makam Cagar Budaya Sengeng Lampe Utu, Bulukumba.
Kini, jejaknya masih menjadi bagian dari ingatan sejarah masyarakat Sulawesi Selatan.
Kisah La Makkarodda Baso Kalaka mengingatkan bahwa sejarah tidak selalu hanya tersimpan dalam buku atau bangunan tua. Ia juga hidup melalui makam, cerita keluarga, tradisi masyarakat dan kisah perjuangan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dari sosok seorang Sullewatang Bulo-Bulo hingga Panglima Perang Tellu Limpoe, La Makkarodda meninggalkan cerita tentang kepemimpinan, keberanian dan upaya mempertahankan kehormatan di tengah tekanan kolonial.
Pertanyaannya kini, seberapa banyak generasi hari ini yang masih mengenal nama panglima yang pernah berdiri di garis depan perlawanan tersebut?
Merawat kisah La Makkarodda bukan sekadar mengingat seorang tokoh masa lalu. Lebih dari itu, ia menjadi bagian dari upaya menjaga ingatan sejarah Sulawesi Selatan agar tidak hilang ditelan zaman.

