IniSulawesi.Com, OPINI – Membicarakan Road Map KOHATI Poso tidak bisa dilepaskan dari bayang-bayang Konflik Poso yang pernah membelah masyarakat. Peristiwa itu bukan sekadar sejarah, tetapi realitas yang membentuk cara pandang, relasi sosial, dan tingkat kepercayaan antar komunitas hingga hari ini. Dalam konteks ini, road map KOHATI Poso memiliki makna yang jauh lebih dalam: ia bukan hanya arah gerakan organisasi, tetapi juga upaya sadar untuk memastikan perempuan hadir sebagai aktor utama dalam merawat perdamaian dan membangun kembali tatanan sosial yang inklusif.

Secara positif, road map ini menunjukkan kesadaran bahwa perempuan tidak boleh lagi diposisikan sebagai objek dalam dinamika sosial—terlebih dalam konteks konflik. Selama ini, perempuan sering menjadi pihak yang paling terdampak, tetapi minim dilibatkan dalam proses rekonsiliasi dan pengambilan keputusan. KOHATI Poso memiliki peluang besar untuk membalik keadaan itu. Road map harus menjadi alat untuk mendorong perempuan keluar dari posisi pasif menuju peran strategis: sebagai mediator, pendidik perdamaian, hingga penggerak ekonomi berbasis komunitas.

Namun, di titik ini pula kritik harus ditegaskan. Banyak gagasan besar lahir dari pengalaman konflik, tetapi tidak semuanya mampu diterjemahkan menjadi gerakan yang konkret. Road Map KOHATI Poso tidak boleh jatuh pada romantisme narasi perdamaian tanpa strategi implementasi yang jelas. Jika hanya berhenti pada seminar, diskusi, atau kegiatan seremonial, maka ia gagal menjawab kebutuhan riil masyarakat Poso yang masih menyimpan residu konflik.

Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk masuk ke ruang-ruang yang selama ini dihindari: membangun dialog lintas identitas, memperkuat pendidikan toleransi sejak akar rumput, serta menciptakan program pemberdayaan yang benar-benar menyentuh perempuan korban konflik—bukan hanya secara simbolik, tetapi secara ekonomi dan psikososial. Road map harus memuat indikator yang tegas: berapa banyak perempuan yang dilatih sebagai agen perdamaian? sejauh mana keterlibatan mereka dalam ruang publik meningkat? apa dampak nyata yang dirasakan masyarakat?

Di sisi lain, pengalaman konflik memberikan keunggulan tersendiri bagi KOHATI Poso. Mereka tidak berbicara dari teori, tetapi dari realitas. Mereka memahami betapa rapuhnya harmoni sosial, dan betapa pentingnya membangun kepercayaan secara perlahan. Ini adalah modal sosial yang tidak dimiliki semua daerah. Jika dikelola dengan baik, KOHATI Poso bisa menjadi model nasional dalam gerakan perempuan berbasis perdamaian.

Dalam konteks ke-HMI-an, road map ini juga menjadi tantangan serius. KOHATI tidak boleh hanya menjadi “pelengkap struktural” dalam organisasi. Ia harus mampu mendorong perubahan paradigma di internal HMI: bahwa isu perempuan, perdamaian, dan keadilan sosial bukan isu pinggiran, tetapi inti dari perjuangan organisasi. Jika KOHATI Poso berhasil menjalankan road map ini secara konsisten, maka ia tidak hanya memperkuat dirinya, tetapi juga mengoreksi arah gerak HMI agar lebih responsif terhadap realitas sosial.

Lebih jauh lagi, dalam konteks kebangsaan, Road Map KOHATI Poso memiliki relevansi yang luas. Indonesia sebagai negara yang majemuk selalu berada dalam potensi konflik. Apa yang pernah terjadi di Poso adalah pelajaran penting bagi daerah lain. Di sinilah KOHATI Poso bisa mengambil peran strategis: menjadi laboratorium sosial yang melahirkan praktik-praktik baik dalam membangun perdamaian berbasis perempuan. Ini bukan sekadar kontribusi lokal, tetapi kontribusi nasional.

Positifnya, arah yang dibangun dalam road map ini sudah menunjukkan fondasi yang kuat: keberpihakan pada perempuan, kesadaran akan pentingnya perdamaian, dan keinginan untuk berkontribusi secara nyata. Namun, semua itu hanya akan bermakna jika diikuti dengan konsistensi, keberanian, dan evaluasi yang jujur.

Pada akhirnya, Road Map KOHATI Poso bukan hanya tentang bagaimana organisasi ini bergerak ke depan, tetapi tentang bagaimana ia menjawab masa lalu. Ia adalah janji bahwa perempuan tidak lagi hanya menjadi saksi sejarah konflik, tetapi menjadi penentu arah masa depan. Dan jika dijalankan dengan sungguh-sungguh, KOHATI Poso tidak hanya akan melahirkan kader tetapi juga memastikan bahwa luka lama benar-benar berubah menjadi kekuatan untuk membangun perdamaian yang berkelanjutan.