IniSulawesi.Com, OPINI – Militansi alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang berhimpun dalam Korps Alumni HMI (KAHMI) tidak semestinya diukur dari seberapa besar jabatan yang disandang, melainkan dari sejauh mana komitmen pengabdian tetap terjaga ketika jabatan itu tidak lagi melekat. Untuk menguji apakah seorang alumni benar-benar kader paten, satu cara paling jujur adalah tidak memberinya jabatan apa pun, lalu membiarkannya membuktikan bahwa tanpa posisi dan kepentingan, ia tetap setia mengurusi HMI.
KAHMI lahir sebagai wadah pengabdian alumni, bukan panggung distribusi jabatan. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit alumni yang baru tampak aktif ketika struktur, posisi, atau akses kekuasaan tersedia. Ketika jabatan itu hilang, kehadiran pun perlahan memudar. Pada titik inilah militansi alumni diuji secara nyata: apakah tetap mendampingi proses kaderisasi, memberi ruang advokasi, serta menjadi teladan moral bagi kader aktif, atau justru memilih menjauh karena merasa tidak lagi memiliki peran.
Alumni HMI yang paten tidak menunggu jabatan untuk bekerja. Mereka hadir karena kesadaran ideologis, bukan karena legitimasi struktural. Sebaliknya, alumni yang hanya bergerak ketika ada posisi patut dipertanyakan orientasi ke-HMI-annya. Loyalitas yang bersyarat pada jabatan bukanlah cerminan kader ideologis, melainkan indikasi kader “oplosan” yang aktif selama kepentingan berjalan searah.
Tanpa jabatanlah kualitas alumni diuji secara utuh. Jabatan bisa memberi pengaruh, tetapi nilai memberi daya tahan. Alumni yang benar-benar teruji adalah mereka yang mampu berpuasa dari jabatan, namun tetap konsisten mengabdi, menguatkan kader, dan menjaga marwah HMI sebagai organisasi kader dan perjuangan.
Pada akhirnya, masa depan HMI sangat ditentukan oleh kualitas alumninya. KAHMI yang kuat bukan dibangun oleh mereka yang sibuk berebut posisi, melainkan oleh alumni yang tetap setia bekerja dalam sunyi, tanpa jabatan apa pun, demi keberlanjutan nilai dan cita-cita HMI.
KAHMI lahir sebagai wadah pengabdian alumni, bukan panggung distribusi jabatan. Jabatan sejatinya hanyalah alat untuk memperkuat peran, memperluas pengaruh, dan membantu adik-adik HMI dalam proses kaderisasi agar tetap berjalan pada rel ideologisnya. Jabatan bukan tujuan akhir, apalagi sarana untuk memperkaya diri atau menjauhkan alumni dari tanggung jawab moral terhadap organisasi.
Tulisan ini sejatinya menjadi bahan perenungan kita bersama. Sebab tidak sedikit alumni yang mulai kehilangan kepedulian terhadap HMI justru setelah memperoleh jabatan. Aktivitas ke-HMI-an perlahan memudar, pendampingan kader terhenti, dan relasi dengan organisasi terputus seiring bertambahnya kesibukan struktural. Padahal, di situlah seharusnya peran alumni semakin nyata, bukan sebaliknya.
Alumni HMI yang paten tidak menunggu jabatan untuk mengabdi. Mereka hadir karena kesadaran ideologis, bukan karena legitimasi struktural. Tanpa jabatanlah militansi diuji secara utuh apakah tetap membersamai kader, menguatkan nilai, dan menjaga marwah organisasi, atau justru menjauh karena merasa tidak lagi memiliki kepentingan.
HMI bukan ruang untuk mengejar keuntungan personal. HMI adalah tempat menempa kesadaran, memperluas ilmu, dan membangun tanggung jawab sosial. Ilmu, nilai, dan pengalaman yang diperoleh selama ber-HMI sejatinya jauh lebih mahal daripada harga sebuah jabatan apa pun. Jabatan bisa hilang oleh waktu, tetapi nilai yang tertanam akan melekat sepanjang hayat.
Pada akhirnya, KAHMI yang kuat bukan dibangun oleh alumni yang sibuk mempertahankan posisi, melainkan oleh mereka yang semakin rendah hati ketika diberi amanah, dan tetap setia mengabdi meski tanpa jabatan apa pun. Di situlah makna militansi alumni HMI menemukan bentuknya yang paling jujur.
Selamat Milad Himpunanku yang Ke 79 Tahun (05 Februari 1447/ 05 Februari 2026)
Catatan tinta digital : Muwardi Andi Makka

