IniSulawesi.Com, TOLITOLI – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Madako Tolitoli (UMADA) mengembangkan Modul Belajar Digital Offline berbasis server lokal mini Raspberry Pi untuk mendukung proses pembelajaran siswa sekolah dasar di wilayah pesisir Pulau Lutungan, Kelurahan Nalu, Kecamatan Baolan, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah.

Program tersebut dirancang sebagai solusi atas keterbatasan akses internet dan minimnya sumber belajar digital yang selama ini dihadapi sekolah dasar di wilayah pesisir. Melalui sistem server lokal, siswa dan guru dapat mengakses berbagai materi pembelajaran melalui jaringan Wi-Fi tanpa membutuhkan koneksi internet.

Program bertajuk “Pemberdayaan Sekolah Dasar Pesisir melalui Pengembangan Modul Belajar Digital Offline Berbasis Server Lokal untuk Meningkatkan Kemandirian Belajar Siswa” ini dipimpin oleh Sitti Nuralan, S.Pd., M.Pd. selaku ketua tim, bersama Hidayati dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris dan Ikbal dari Program Studi Teknologi Pendidikan.

Kegiatan dilaksanakan bersama mitra sasaran, yakni Kelompok Belajar Lutungan Literasi yang berlokasi di Pulau Lutungan dengan penanggung jawab Mobilio. Program tersebut juga melibatkan kepala sekolah, guru, siswa, serta mahasiswa pendamping.

Modul pembelajaran yang dikembangkan tersedia dalam format PDF ringan dan HTML offline. Materi di dalamnya mencakup materi inti pembelajaran, aktivitas belajar mandiri, bank soal, video edukasi pendek, infografis hingga materi visual interaktif.

Menariknya, materi pembelajaran turut disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar. Potensi wilayah pesisir, kearifan lokal dan aktivitas masyarakat setempat diintegrasikan sebagai bagian dari sumber belajar kontekstual bagi siswa.

Program ini dilaksanakan melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Ketua tim pelaksana menjelaskan, pengembangan teknologi tersebut berangkat dari kondisi sekolah pesisir yang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur digital. Data awal menunjukkan sekitar 78 persen siswa belum memiliki perangkat personal, sementara 64 persen siswa masih mengandalkan pembelajaran di sekolah tanpa sumber belajar tambahan di rumah.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan tim UMADA menghadirkan sistem pembelajaran digital yang tidak bergantung pada jaringan internet.
Pelaksanaan program dilakukan melalui lima tahapan utama, yakni sosialisasi dan identifikasi kebutuhan bersama sekolah mitra, pengembangan modul sekaligus instalasi dan konfigurasi server Raspberry Pi, pelatihan guru, implementasi modul dalam pembelajaran klasikal maupun mandiri, serta evaluasi dan persiapan keberlanjutan program.

Dalam pelaksanaannya, server lokal Raspberry Pi berfungsi sebagai pusat penyimpanan sekaligus distribusi materi pembelajaran. Guru maupun siswa dapat terhubung ke server melalui jaringan Wi-Fi lokal untuk mengakses bahan ajar yang telah disediakan.

Program juga menargetkan tersedianya sedikitnya 5–10 konten edukatif berupa video, infografis dan materi visual interaktif. Selain itu, pelatihan guru diarahkan agar minimal 80 persen peserta mencapai kompetensi berdasarkan hasil evaluasi sebelum dan sesudah pelatihan.

Dari sisi siswa, program menargetkan sedikitnya 70 persen peserta mengalami peningkatan kemandirian belajar serta tingkat keberhasilan akses modul minimal 90 persen tanpa kendala teknis.
Selain menghasilkan perangkat dan modul pembelajaran, kegiatan tersebut juga didukung dokumentasi video dampak yang merekam proses penerapan teknologi serta manfaatnya bagi guru dan siswa.

Tim pelaksana berharap program tersebut tidak berhenti pada tahap penyerahan perangkat. Ke depan, pemeliharaan server, penyempurnaan materi pembelajaran, peningkatan kompetensi guru dan perluasan pemanfaatan modul kepada seluruh siswa akan terus didorong.

Pengelolaan sistem secara mandiri oleh sekolah juga menjadi bagian penting dari keberlanjutan program, sehingga server lokal Raspberry Pi dapat dikembangkan menjadi perpustakaan digital offline yang menyediakan sumber belajar bagi siswa dan guru di wilayah pesisir Pulau Lutungan.

Melalui inovasi tersebut, UMADA berupaya mendorong pemanfaatan teknologi pendidikan yang lebih inklusif dan sesuai dengan kondisi sekolah, khususnya bagi masyarakat pesisir yang belum sepenuhnya memperoleh akses terhadap sumber belajar digital berbasis internet.