Inisulawesi.Com, PALU – Kondisi cuaca dengan suhu udara yang cukup tinggi di Kota Palu menjadi perhatian menyusul meningkatnya potensi kebakaran, baik kebakaran hutan dan lahan maupun permukiman warga.
Pengamat kebencanaan dan pelayanan publik, Sofyan Lembah, SH, meminta pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan tidak menunggu terjadinya bencana baru kemudian mengambil langkah penanganan.
Menurut Sofyan, kondisi cuaca ekstrem harus menjadi momentum untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran. Pemerintah dinilai perlu memiliki sense of crisis serta manajemen risiko yang mampu mengantisipasi berbagai kemungkinan sebelum bencana terjadi.
“Jangan sampai kita baru bergerak setelah bencana terjadi. Sistem kewaspadaan harus dibangun sejak awal melalui koordinasi, edukasi dan kesiapan menghadapi risiko,” ujar Sofyan.
Ia menjelaskan, dalam manajemen risiko kebencanaan terdapat konsep sistem peringatan dini atau early warning system. Sistem tersebut tidak hanya berupa perangkat teknologi, tetapi juga menyangkut kesiapan masyarakat, koordinasi antarinstansi, pemetaan wilayah rawan serta kecepatan dalam merespons keadaan darurat.
Sofyan menilai edukasi kepada masyarakat juga harus diperkuat. Masyarakat perlu mendapatkan informasi yang jelas mengenai potensi kebakaran, langkah pencegahan, jalur pelaporan hingga tindakan yang harus dilakukan ketika kebakaran terjadi.
“Informasi di lapangan harus menjadi bagian dari proses edukasi, koordinasi dan sinkronisasi. Semua pihak harus memahami perannya ketika menghadapi kondisi darurat,” katanya.
Ia juga menyoroti keterbatasan anggaran yang kerap menjadi alasan dalam pelaksanaan program kesiapsiagaan. Menurutnya, efisiensi anggaran tidak seharusnya menghentikan upaya membangun sistem kewaspadaan.
“Tidak semuanya harus membutuhkan biaya besar. Koordinasi, komunikasi, edukasi dan pembagian peran yang jelas juga merupakan bagian dari sistem kesiapsiagaan,” jelasnya.
Sofyan juga mengingatkan bahwa suara sirene mobil pemadam kebakaran yang terdengar di tengah kondisi cuaca panas harus menjadi pengingat bagi semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan.
Ia berharap September dapat menjadi momentum memperkuat kesiapan menghadapi ancaman kebakaran, bukan justru diwarnai peristiwa yang menimbulkan korban dan kerugian masyarakat.
“Forum kewaspadaan dini terhadap bencana harus dihidupkan secara masif. Kita tidak boleh lalai. Jangan menunggu api membesar baru kemudian bergerak,” tegas Sofyan.

