IniSulawesi.Com, Palu — Sejarah panjang perlawanan rakyat di pesisir Teluk Palu kembali terangkat melalui catatan bertuliskan huruf Bugis yang ditemukan pada 1941 di rumah panggung keluarga Yundalemba, Kelurahan Besusu. Dokumen tersebut merekam rangkaian kejadian penting yang dikenal sebagai Kapapu nu Kayumalue atau Perang Kayumalue, sebuah episode bersejarah yang dimulai dari persoalan adat dan berakhir sebagai perjuangan melawan kolonialisme Belanda.

Pengintaian Belanda dan Benih Konflik (1884–1885)

Catatan itu menyebutkan bahwa pada 1884, kapal perang Belanda dari Manado melakukan pengintaian berkepanjangan di wilayah yang kini menjadi bagian dari Kota Palu. Aktivitas ini berlangsung berbulan-bulan dengan dukungan jaringan mata-mata, menjadi tanda awal ketertarikan Belanda untuk memperluas kendali di kawasan tersebut.

Setahun kemudian, 1885, muncul perselisihan antara Raja Tavaili dan Raja Kayumalue. Pemicu konflik tersebut dianggap sepele perhelatan adat besar yang ditandai pemasangan ula-ula (umbul-umbul tradisional). Dengan dukungan Mangge Risah (Raja Maili) dan Daeng Mambani dari garis keturunan Pue Bongo tertua, digunakanlah ula-ula peninggalan leluhur dari Bangga bernama Garupa, sepanjang 20 meter, yang melambangkan ragam warna dan keagungan adat.

Penggunaan Garupa memicu ketidaksenangan Raja Tavaili yang merasa dipinggirkan. Meski para tetua saat itu mampu meredam dan menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan, bibit ketegangan sudah tertanam.

 

Belanda Menghasut: Perang Kayumalue I dan II

Kondisi retaknya hubungan antar kerajaan lokal dimanfaatkan Belanda. Dengan memprovokasi kedua kubu, Belanda mendorong terjadinya Perang Kayumalue pertama pada 1886, lalu kembali memanaskan suasana hingga pecah perang kedua pada 1887 di Loji. Belanda berpihak pada salah satu kelompok untuk memperluas kendali politik mereka.

 

Kesadaran Bersama dan Perang Kayumalue III (1888)

Melihat campur tangan Belanda yang semakin jauh, Raja Maili dan Daeng Mambani akhirnya menyadari bahwa konflik antar sesama tidak membawa manfaat. Mereka kemudian mengalihkan kekuatan untuk memerangi pihak kolonial, memicu Perang Kayumalue ketiga pada 1888.

Belanda merespons dengan kekuatan penuh: kapal-kapal perang menembakkan meriam ke Kayumalue dan menurunkan Petoro (serdadu kolonial) untuk membakar wilayah itu. Setelah sekitar tiga tahun pertempuran, Belanda berhasil menguasai Kayumalue tanpa perlawanan berarti.

 

Upaya Mendapatkan Senjata dan Datangnya Bantuan

Dalam tekanan serangan, Raja Maili mundur ke Bangga untuk mencari bala bantuan kepada pamannya  Rundalemba, Sisilemba, dan Penewali Sasaralemba sekaligus meminta izin menggunakan tiga senjata peninggalan Portugis: Sobende, Tarakolo, dan Matampuku. Meski tidak ada catatan pasti mengenai asal-usul nama senjata tersebut, keberadaannya menandai pentingnya jaringan kekuatan lokal saat itu.

Bantuan besar kemudian datang dari Dolo Kaleke dipimpin Raja Yolulemba bersama putranya, Datu Pamusu, serta Datu Palinge, yang saat itu masih berusia sekitar 21 tahun.

Dukungan mengalir dari berbagai wilayah: Bulubale, Kabonga, Loli, Lambagu (Pantoloan), Vatutela, Besusu Tatanga, bahkan Parigi turut mengirim kekuatan menunjukkan luasnya solidaritas masyarakat dalam menghadapi kolonialisme.

Kisah Kapapu nu Kayumalue bukan sekadar potongan sejarah lokal, tetapi gambaran bagaimana konflik kecil dapat dimanfaatkan kekuatan asing untuk memperluas pengaruh kolonial. Namun lebih dari itu, perlawanan ini menjadi simbol persatuan berbagai wilayah di Sulawesi Tengah dalam melawan dominasi Belanda.