IniSulawesi.Com, Sulteng – Bulan suci Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menjadi ruang pembelajaran spiritual yang mendalam bagi umat Islam. Hal tersebut disampaikan oleh Zainal Abidin dalam tausiyahnya menyambut bulan penuh berkah.

Menurutnya, puasa adalah proses pendidikan jiwa yang melatih kesabaran, kejujuran, dan pengendalian diri.

“Ramadhan mengajarkan kita untuk menata hati, memperbaiki niat, serta meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Allah SWT dan sesama manusia,” ujarnya.

Ia menjelaskan, esensi puasa terletak pada upaya mencapai derajat takwa. Takwa, kata dia, bukan hanya diwujudkan dalam ritual ibadah, tetapi juga tercermin dalam perilaku sosial sehari-hari. Sikap empati terhadap kaum dhuafa, mempererat silaturahmi, serta menjaga lisan dari perkataan yang menyakiti menjadi bagian penting dari hikmah Ramadhan.

Lebih lanjut, Prof. Zainal Abidin menekankan bahwa Ramadhan juga merupakan momentum evaluasi diri. Setiap Muslim diajak untuk melakukan refleksi atas perjalanan hidupnya, memperbaiki kesalahan, serta memperkuat komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

“Puasa membangun kesadaran bahwa hidup ini bukan hanya tentang kepentingan pribadi. Ada tanggung jawab sosial yang harus kita tunaikan. Ketika kita merasakan lapar, di situlah tumbuh solidaritas kepada mereka yang setiap hari hidup dalam keterbatasan,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga konsistensi ibadah setelah Ramadhan usai. Menurutnya, keberhasilan puasa tidak hanya diukur dari sebulan penuh menahan diri, tetapi dari perubahan sikap dan akhlak yang berkelanjutan.

Menutup tausiyahnya, Prof. Zainal Abidin mengajak umat Islam menjadikan Ramadhan sebagai titik balik menuju kehidupan yang lebih bermakna, berakhlak mulia, dan penuh kepedulian.

“Semoga Ramadhan tahun ini benar-benar menghadirkan cahaya dalam hati kita dan membawa keberkahan bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa,” pungkasnya.