IniSulawesi.Com, Pohuwato – Desa Bulangita dan Desa Teratai, Kecamatan Marisa, selama bertahun-tahun hidup berdampingan dengan persoalan yang sama, lumpur sisa aktivitas pertambangan yang perlahan namun pasti menggerus harapan warga. Setiap hujan turun, aliran lumpur cokelat memenuhi saluran irigasi, menyumbat jalur air, dan mengancam lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat.
Di tengah kondisi tersebut, muncul sosok Ais Botutihe. Putra asli Bulangita yang besar di wilayah Teratai itu memilih tidak larut dalam keluhan. Ia mengambil langkah nyata, turun langsung ke lapangan, membersihkan saluran irigasi yang tersumbat, dan mengerahkan alat berat demi mengembalikan fungsi aliran air.
Bagi Ais, persoalan ini bukan sekadar isu lingkungan, melainkan menyangkut masa depan kampung halaman dan keberlangsungan hidup ratusan keluarga. Ia memahami betul dampak sedimentasi lumpur tambang mulai dari ancaman gagal panen hingga risiko banjir yang terus menghantui setiap musim hujan.
“Ini bukan soal siapa yang salah. Ini tentang bagaimana kita bertanggung jawab pada tempat kita hidup,” ungkap Ais saat ditemui di lokasi pengerukan.
Tanpa menunggu uluran tangan pihak lain, Ais membiayai sendiri operasional pembersihan saluran irigasi. Ia tidak hanya menginstruksikan dari jauh, tetapi ikut turun memastikan setiap titik yang tersumbat ditangani dengan baik. Baik wilayah Bulangita maupun Teratai, semua mendapat perlakuan yang sama, tanpa membedakan latar belakang maupun kedekatan personal.
Langkah tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Banyak warga yang sebelumnya cemas kini mulai bernapas lega. Air kembali mengalir, risiko banjir berangsur menurun, dan aktivitas pertanian perlahan pulih.
Aksi yang dilakukan Ais Botutihe juga memberi pesan penting bahwa aktivitas ekonomi, termasuk pertambangan, tidak harus selalu berujung pada konflik dan kerusakan lingkungan. Dengan kepedulian dan tanggung jawab, keseimbangan antara pembangunan dan keberlangsungan hidup masyarakat tetap dapat dijaga.
Meski banyak yang menyebutnya sebagai penyelamat kampung, Ais enggan dipuji berlebihan. Baginya, apa yang ia lakukan adalah bentuk panggilan moral sebagai anak daerah yang tidak ingin melihat tanah kelahirannya terus menanggung beban.
Di saat banyak pihak masih sibuk menunggu dan saling menyalahkan, Ais Botutihe telah menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari keberanian untuk bertindak. Sebuah teladan bahwa kepedulian, jika diwujudkan dalam aksi nyata, mampu memberi dampak besar bagi lingkungan dan kehidupan bersama.

