iniSulawesi.com, Bolmong – Unjuk rasa yang berlangsung hari Senin (09/02/2026) di Perbatasan Bolmong-Minsel, tepatnya di jembatan kecamatan Poigar adalah cermin kejernihan niat masyarakat Bolaang Mongondow Raya. Ia hadir tanpa kemewahan panggung, tanpa sorak kepentingan, tanpa bendera ego siapa pun. Yang tampak hanyalah rakyat melangkah dengan kesadaran, menyuarakan harapan yang lahir dari kebutuhan bersama, bukan dari hasrat berkuasa.
Perlu ditegaskan dengan jujur dan terbuka: perjuangan Provinsi Bolaang Mongondow Raya tidak memuat kepentingan perorangan, tidak ditunggangi kelompok identitas, dan tidak menjadi alat elite tertentu. Inilah gerakan yang tumbuh dari bawah, dari kegelisahan yang sama, dari kerinduan panjang akan keadilan pembangunan dan pelayanan publik yang lebih dekat.

Menariknya, unjuk rasa itu berjalan nyaris tanpa suara sumbang dari para elit dan kepala daerah di BMR. Jalanan seolah menjadi ruang sunyi yang diisi oleh kejujuran rakyat. Kesunyian itu tidak serta-merta berarti penolakan. Bisa jadi, di dalam diam para elit tersimpan keinginan yang sama harapan yang sejalan dengan jeritan halus masyarakat yang hari ini memilih turun ke jalan.
PBMR tidak dibangun untuk menghapus siapa pun. Ia tidak berdiri di atas penyangkalan sejarah, tetapi di atas pengakuan. Bolmut dengan dua eks swapraja Kerajaan Bintauna dan Kerajaan Kaidipang Besar adalah bagian sah dan bermartabat dari wilayah historis Bolaang Mongondow Raya. Penyebutan eks swapraja lain dalam narasi BMR hanyalah rujukan administratif-historis awal, bukan batas eksklusif identitas, apalagi alat untuk mengecilkan peran wilayah tertentu.
Sejak dahulu, BMR adalah ruang hidup yang toleran. Perbedaan tidak dipertentangkan, identitas tidak diperdagangkan, dan sejarah tidak dijadikan alasan untuk saling meniadakan. Karena itu, perjuangan PBMR bukan perjuangan etnis, bukan pula adu klaim sejarah, melainkan ikhtiar bersama untuk menghadirkan negara lebih dekat kepada masyarakatnya.
Catatan tentang belum optimalnya pelibatan tokoh agama, adat, OKP, dan pemangku kepentingan di sejumlah wilayah termasuk Bolmut harus diterima sebagai bahan evaluasi, bukan alasan untuk menutup diri. Jalan paling bermartabat adalah membuka ruang dialog yang setara, agar seluruh aspirasi dapat dirajut menjadi kekuatan bersama.
PBMR tidak akan kuat jika dijalankan dengan kecurigaan. Ia hanya akan kokoh bila dibangun di atas kejujuran, keterbukaan, dan keberanian mendengar baik oleh masyarakat maupun oleh para kepala daerah yang hari ini memegang mandat rakyat.
Mungkin inilah saatnya para pemimpin di BMR tidak sekadar membaca gerakan ini sebagai unjuk rasa, tetapi sebagai panggilan nurani. Karena ketika rakyat melangkah tanpa dititipi kepentingan, sesungguhnya mereka sedang menitipkan masa depan.
PBMR adalah kehendak bersama.
Bukan milik elit.
Bukan milik identitas tertentu.
Ia adalah gerakan rakyat bermartabat yang ingin didengar dan diperjuangkan bersama.
Penulis : SUBAGIO MANGGOPAÂ (Tokoh Pemuda kab. Bolaang Mongondow)

